Rabu, 29 April 2009

Mari Membuat Film Dokumenter


Tahap 1. Tentukanlah obyek apa yang ingin kita filmkan. Semua hal dapat kita filmkan, mengingat film dokumenter merupakan representasi kenyataan kehidupan apa adanya. Dari tema kehidupan sehari-hari seperti mencuci piring, mencuci baju, membersihkan wajah, memasak, sampai dengan tema-tema festival seperti penanaman pohon, kebersihan lingkungan, dan penghijauan. (Tema kehidupan sehari-hari seperti ini memang jarang menang dalam festival, tapi akan sering muncul di tv. Lihatlah iklan-iklan produk kebersihan/deterjen dan kebersihan wajah. Mirip film dokumenter kan?). Tahap 2. Riset. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang obyek yang ingin kita filmkan, baik dari buku, majalah, surat kabar, internet, wawancara, observasi langsung, dan sebagainya. Riset ini untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap obyek sehingga kita bisa menyampaikan informasi yang menyeluruh dan benar dalam film kita.Tahap 3. Tentukan sudut pandang dan buatlah naskah. Apakah dari sudut pandang orang pertama (pelaku) atau sudut pandang orang ketiga (penonton). Tentu saja naskahnya akan berbeda. Cara bertutur orang pertama berbeda dengan cara bertutur orang ketiga kan? Naskah tidak perlu terlalu kaku. Apabila dipandang perlu ada wawancara dengan tokoh-tokoh tertentu, buatlah tanda dalam naskah: siapa yang diwawancarai dan apa saja yang akan ditanyakan dan bagaimana kira-kira jawabannya. Apabila perlu, buatlah arahan sehingga uraian tokoh yang kita wawancarai nantinya singkat, padat dan sesuai dengan kehendak.Tahap 4. Rencanakan gambar. Gambar ditujukan untuk menyertai dan memperjelas uraian. Misal, di naskah terdapat uraian tentang membersihkan wajah, maka sebaiknya disertai gambar orang sedang mengusap wajahnya dengan busa pembersih. Untuk membuat gambar lebih menarik, dicari pemeran yang sesuai, misalnya wanita yang muda dan cantik. Meskipun film dokumenter, kaidah-kaidah perfilman tetap boleh digunakan. Konsep bahasa gambar, lighting, make up, setting, kostum, dan sebagainya tetap harus diperhatikan sehingga film kita menjadi utuh dan menarik. Misal, kita mengambil gambar kraton dengan penjaganya. Akan lebih baik apabila kita mendapatkan gambar penjaga kraton berbaju tradisional daripada gambar penjaga kraton berbaju satpam. Lebih klasik dan lebih artistik.Tahap 5. Siapkan kebutuhan produksi. Siapkan kamera video, voice/tape recorder, lampu-lampu, boom, clip on mic, kaset video maupun tape, dan bahan-bahan pendukung lainnya seperti bahan untuk special effect. Untuk film dokumenter tentang mencuci pakaian, tentunya diperlukan baju-baju kotor. Baju-baju ini dapat disiapkan sebelumnya sehingga pada waktu produksi tidak kebingungan mencarinyaTahap 6. Produksi. Inilah tahap pengambilan gambar dan suara sesungguhnya. Jangan lupa menandai setiap gambar yang diambil. Klaper yang umum digunakan pada pembuatan film profesional juga dapat digunakan. Kalau tidak ada klaper, gunakan kertas putih dan tulislah secara singkat dengan huruf besar deskripsi shoot yang diambil.Tahap 7. Editing dan finishing. Urutkan gambar sesuai naskah. Suara narator juga diambil pada saat ini. Sinkronkan keduanya. Kadang, gambar terlalu panjang dan narasi/naskah terlalu pendek atau sebaliknya. Bubuhkan musik pengiring dan sound effect untuk membuat film lebih 'hidup'. Tambahkan grafis judul dan uraian-uraian yang diperlukan (uraian-uraian ini bisa disiapkan sebelumnya pada waktu pembuatan naskah). Burn film ke media CD/DVD dari merk yang baik berdaya tahan tinggi sehingga gambar tidak mudah macet. Buatlah cover yang baik. Satukan. Jadilah film dokumenter dan siap dinikmati.

Tidak ada komentar: