Jumat, 17 April 2009

Sekilas tentang Charles Deemer




Tehnik apa yang digunakan dalam film ini?

a. Blue Screen
b. Green Screen

Charles Deemer adalah
seorang pengajar Penulisan
Skenario di Portland State
University. Sejak tahun
1994, Ia telah membuat
website berisikan tentang
penulisan skenario (web
buatannya tahun 1994,
sejak tahun 2001
sudah tidak aktif
lagi). Websitenya
tercatat sebagai
website pertama
yang dibuat oleh
penulis skenario
dan didedikasikan
untuk dunia
penulisan skenario.
Sekarang, situsnya
berada di www.geocities.com/cdeemer/.
Disitus ini, ia memberikan panduan dasar
tentang penulisan skenario, baik untuk film
maupun drama. Deemer juga menulis buku
tentang penulisan skenario berjudul
Screenwright: the craft of screenwriting. Buku
ini oleh John Jarvis
dijuluki sebagai “the
bible of screenwriting
for the novice”.

Ditulis oleh Wenan Setyo N

Paradigma Bercerita ala Charles Deemer








Glossary
(bacalah : terjemahan bebas sebagai
penjelasan singkat)
Teks biru: merupakan istilah atau penanda
dalam struktur cerita
Teks merah: merupakan contoh-contoh
kalimat sebagai kata pembuka pada setiap
babak, yang sering digunakan dalam bercerita
Begin: bagian awal dari cerita
Middle: bagian tengah cerita
End: bagian akhir cerita
Setup: proses pembentukan cerita. Pada
bagian ini, penonton dikenalkan dengan para
tokoh dan latar-belakang pribadinya, waktu
dan tempat terjadinya cerita, kondisi
dan situasi lingkungan pada saat cerita
berlangsung, dan masalah-masalah yang
akan dihadapi oleh tokoh utama.
Conflict: perjuangan tokoh utama untuk
menyelesaikan masalah-masalahnya.
Biasanya tokoh utama kemudian dihadapkan
pada peristiwa-peristiwa yang diluar
dugaannya sehingga membuat cerita menjadi
lebih menarik
Resolution: akhir dari cerita. Masalahmasalah
terselesaikan satu demi satu. Tokoh
utama dan tokoh-tokoh lainnya berada
dalam keadaan baru, bisa saja dalam keadaan
yang menyenangkan atau sebaliknya,
menyedihkan. Setiap tokoh mendapati dunia
barunya, yang berbeda dengan dunianya
semula di awal cerita.
Once upon a time: kata-kata klasik sebagai
penanda dimulainya cerita. Kata ini untuk
menunjukkan waktu terjadinya cerita. Dalam
bahasa Indonesia mungkin bisa disebut
dengan kata-kata: pada suatu ketika atau pada
jaman dahulu kala...
Hook: jebakan, kaitan. Bagian cerita untuk
membuat penonton 'terjebak' dengan
keinginan penulis skenario sehingga terus
mengikuti jalannya cerita.
Inciting incident(complication): provokasi,
peristiwa atau masalah yang menjadi
penggugah tokoh utama melakukan sesuatu
Call to action: tindakan yang harus dilakukan
oleh tokoh utama. Call to action berbeda
dengan inciting incident. Call to action lebih
menekankan pada kewajiban yang harus
dilakukan tokoh utama sesuai dengan
pekerjaan atau statusnya. Misalnya kewajiban
polisi untuk menangkap penjahat.
And then one day: disinilah titik awal mula
cerita berjalan
Plot point to enter: peristiwa penting yang
mengubah jalannya cerita (misalnya peristiwa
yang diharapkan berhasil, ternyata gagal,
karena terjadi peristiwa lain diluar perkiraan
tokoh utama.Peristiwa lain ini kemudian
berkembang menjadi satu cerita utuh dalam
skenario)
Ordinary world: dunia biasa, kehidupan
sehari-hari tokoh utama
Extraordinary world/story world: babak
berlangsungnya cerita, dimana peristiwa demi
peristiwa berlangsung menyampaikan cerita
penulis skenario, menuju terbentuknya dunia
yang baru.
Just when everthing was going so well: boleh
dibilang ini adalah titik balik kenyataan.
Ketika segalanya mulai berjalan
dengan lancar, tiba-tiba saja muncul masalah
yang harus dihadapi.
Mid point twist: terjadi perubahan jalan cerita
di pertengahan skenario. Perubahan ini untuk
mengejutkan penonton bahwa peristiwa yang
terjadi selanjutnya ternyata diluar perkiraan
penonton.
Low point: mendekati akhir cerita. Cerita
sudah tidak berkembang. Penontong tidak
lagi diajak untuk mereka-reka masalah apalagi
yang akan timbul. Peristiwa yang terjadi
selanjutnya merupakan upaya-upaya tokoh
utama untuk mencapai tujuannya. Pada tahap
ini, penulis skenario sepertinya memberi
'bocoran' kepada penonton tentang akhir
cerita.
When at the last minutes: pada detik-detik
terakhir
Ticking Clock: menghitung detik demi detik,
saat-saat kritis. Contohnya, penjinak bom
yang dihadapkan pada bom yang akan
meledak 60 detik kemudian.
Showdown: konfrontasi, terjadi peristiwaperistiwa
yang saling bertentangan atau tidak
diharapkan. Peristiwa ini harus dihadapi
dipecahkan oleh tokoh utama.
Growth: cerita mulai berkembang, dari cerita
yang sederhana menjadi cerita yang lebih
rumit dan kompleks
And everybody happily ever after: happy
ending, tokoh utama mendapatkan apa yang
diinginkannya sehingga cerita kehidupannya
berakhir bahagia
Sadder but wiser: mirip sad ending, tokoh
utama gagal meraih keinginannya tapi ia
menjadi lebih bijaksana. Kalau sad ending bisa
saja tokoh utamanya mati.
Dead: ending yang benar-benar tidak
menyenangkan, karena tokoh utama mati
pada akhir cerita.
Like a blind man wandering the earth: seperti
orang buta berjalan tanpa arah dan tujuan
yang jelas di muka bumi. Tokoh utama
menjadi gila, stress, tertekan, pokoknya
menyedihkan. Mungkin yang diharapkan oleh
penulis skenario adalah timbul rasa kasihan
terhadap tokoh utama.
Tragedy: mirip dengan like a blind man
sebelumnya. Tokoh utama gagal karena
kelemahan pribadi atau ketidakmampuannya
untuk mengatasi keadaan yang tidak
menyenangkan.
Catatan : Glossary ini mungkin tumpang
tindih, tapi itu wajar saja. Untuk memainkan
emosi penonton, penulis skenario membuat
tokoh utamanya selalu mendapatkan masalah.
Ketika satu masalah bisa diselesaikan, tibatiba
muncul masalah yang lainnya lagi.
Kejadian ini kemudian berulang-ulang
sepanjang cerita sampai mencapai klimaks
dan akhirnya cerita pun selesai.


Ditulis oleh Wenan Setyo N

Senin, 13 April 2009

Canon vs Nikon.. Mengapa Mesti Bingung?


“There is only you and your camera. The
limitations in your photography are in yourself, for
what we see is what we are.” - Ernst Haas
Kebingungan. Hal ini sering dihadapi
oleh fotografer pemula yang ingin membeli
kamera Digital SLR. Umumnya mereka
bingung pada saat mereka ingin membeli
kamera Digital SLR untuk pertama kali.
Kamera merek apakah yang harus dibeli?
Ada banyak pilihan merek kamera
Digital SLR, baik dari produsen terkenal
seperti Sony, Panasonic, Olympus, Pentax,
Canon, dan Nikon, maupun dari produsen
lainnya seperti Fuji, Sigma, dan Leica
Beberapa orang menganggap Canon
dan Nikon menjadi pilihan terbaik. Kedua
kamera ini memiliki banyak pengguna, baik
profesional maupun penggemar fotografi.
Kedua kamera juga memiliki sejarah yang
panjang dalam dunia fotografi. Mereka sudah
ada sejak era fotografi klasik dengan sistem
perekaman gambar pada film hitam putih
sampai era fotografi modern dengan sistem
perekaman gambar secara digital. Keduanya
saling berlomba-lomba mengembangkan
sistem kamera yang lebih baik dengan jalan
yang berbeda-beda seperti penggunaan
sensor CCD dan CMOS.
Image Canon dan Nikon telah
merasuk dalam pikiran sebagian besar orang
bahwa kamera terbaik adalah Canon dan
Nikon. Namun, ketika seorang diharuskan
untuk memilih Canon atau Nikon sebagai
kamera Digital SLR pertamanya, maka
kebingunganlah yang dihadapinya. Merk
mana yang harus dipilih Canon atau Nikon?
Tidak perlu bingung! Keduanya sama
baiknya bukan? Cobalah perhatikan. Jejerkan
foto-foto hasil jepretan kamera Nikon
dengan kamera Canon secara acak. Atau
downloadlah foto sample dari kamera-kamera
Digital SLR Canon maupun Nikon dari yang
termurah sampai yang termahal misalnya dari
www.dpreview.com. Lalu, buatlah slideshow secara
acak. Sebagai orang awam pasti sulit
membedakan foto mana yang diambil dengan
Canon dan foto mana yang diambil dengan
Nikon. Maka, kamera manapun yang akan
dipilih, maka tidak perlu diragukan lagi
kualitas gambarnya.
Namun, bagaimana bila harus
memilih? Pilihlah dengan melihat orangorang
disekitar, kamera apa yang mereka
pakai, Canon atau Nikon? Apabila mereka
memakai Canon, maka belilah Canon.
Apabila mereka memakai Nikon, maka
belilah Nikon. Dengan menyamakan kamera
sesuai dengan orang-orang disekitar maka
kita akan lebih cepat belajar. Selain itu kita
bisa meminjam asesoris kamera dari mereka,
seperti lensa, lampu kilat, dan sebagainya.
Ada kata-kata bijak di antara
masyarakat penggemar fotografi, buying a
Nikon doesn't make you a photographer. It makes
you a Nikon owner. Mengapa mesti bingung?


Ditulis oleh Wenan Setyo N

Mengembangkan Konsep Cerita Skenario

Mengembangkan Konsep Cerita Skenario

Suatu cerita skenario tersusun atas
karakter, plot, dan tema. Menulis skenario
adalah menulis tentang karakter, plot, dan
tema itu sendiri. Pengembangan ketiga hal ini
menjadi pendukung untuk membuat cerita
yang ditulis menjadi kisah yang menarik atau
biasa saja.
Karakter merupakan tokoh-tokoh
yang terlibat dalam sebuah cerita. Biasanya,
suatu skenario menceritakan perjuangan
tokoh utama untuk mencapai tujuannya. Ia
akan dibantu tokoh pembantu yang
mendukung perjuangannya. Perjuangan
mereka tidaklah mudah sebab ada juga tokoh
penghambat yang tidak senang apabila tokoh
utama berhasil mencapai tujuannya.
Interaksi antartokoh dalam skenario
ditunjukkan dengan plot atau alur cerita. Plot
menunjukkan bagaimana satu peristiwa
dengan peristiwa lainnya saling berkaitan dan
diurutkan sehingga membentuk satu skenario
yang utuh menceritakan proses perjuangan
tokoh utama untuk mencapai tujuannya.
Urutan peristiwa ini kadang mudah dipahami
sebab berlangsung berurutan dari peristiwa
yang terjadi pertama kali dan kemudian
disambung dengan peristiwa lain yang terjadi
berikutnya. Kadang juga, urutan peristiwa ini
sulit dipahami karena skenario tidak
menceritakan urutan peristiwa ini secara urut,
akan tetapi melompat-lompat dari satu
peristiwa ke peristiwa yang lain.
Tema merupakan cerita perjuangan
itu sendiri.
Untuk menarik minat penonton,cerita yang sama, namun penonton masih
maka tema haruslah menggugah rasa ingin
tahu mereka. Banyak film memiliki tema
berminat melihat film-film tersebut karena
memiliki setting atau latar belakang cerita
yang berbeda. Latar belakang inilah yang
membuat suatu cerita itu unik dan berbeda
dengan cerita-cerita yang lain meskipun tema
bahkan judulnya sama.
Karakter dan tema menjadi bahan
utama dalam mengembangkan konsep cerita
skenario. Penulis skenario terlebih dahulu
harus bisa membuat konsep cerita yang akan
ditulisnya baru kemudian menentukan plot
untuk menuturkan ceritanya secara utuh.
Konsep cerita mestinya dapat
dituliskan dalam sebuah kalimat tunggal yang
menyebutkan siapa tokoh utama cerita dan
perjuangan yang ia lakukan untuk mencapai
tujuannya. Konsep cerita secara singkat dapat
dituliskan: Ini adalah cerita tentang (tokoh)
yang (perjuangannya). Apabila konsep cerita
ini diuraikan pada film Ada Apa Dengan
Cinta? (AADC), maka film AADC adalah
cerita tentang Cinta yang berusaha meraih
cintanya terhadap Rangga.
Untuk mengembangkan konsep
cerita, dapat digunakan bantuan pertanyaan
Bagaimana Jika (What If Question). Ada dua
pertanyaan yang mesti bisa dijawab: (1)
Bagaimana jika tokoh utama berhasil dalam
perjuangannya? (2) Bagaimana jika ternyata ia
gagal?

Ditulis oleh Wenan Setyo N