Jumat, 08 Mei 2009

Michael Moore



Nama lengkapnya adalah Michael Francis Moore. Ia dilahirkan pada 23 April 1954 di Flint, Michigan. Tubuhnya yang besar membuatnya dijuluki The Big Man. Ia belajar jurnalistik di University of Michigan-Flint dan menjadi penulis di surat kabar sekolahnya "The Michigan Times". Tahun 1989, setelah drop out dari universitasnya, ia mulai berkarir di bidang film. Film pertamanya Roger and Me meraih sukses besar dan membuatnya terkenal sebagai pembuat film dokumenter yang kontroversial. Film ini menceritakan secara jenaka bagaimana General Motors menhancurkan kehidupan masyarakat di Flint Michigan sebagai akibat penutupan pabrik General Motors yang disertasi dengan pemutusan hubungan kerja terhadap 30.000 orang masyarakat Flint. Roger and Me berhasil mendapatkan 11 penghargaan internasional baik di Amerika, Kanada, maupun Eropa. Moore sukses untuk film pertamanya. Film keduanya, Canadian Bacon dirilis tahun 1995. Film ini termasuk film fiksi, bercerita penurunan popularitas Presiden AS akibat penutupan industri pertahanan. Untuk mencegah penurunan ini semakin besar, ia berusaha membuat intrik dengan membuat rencana mengadakan perang dingin terhadap Kanada. Sayangnya, masyarakat tidak senang dengan ide Moore ini sehingga Canadian Bacon gagal dipasaran. Moore sampai-sampai merasa putus asa dan ingin pensiun dari dunia film. Moore mendapatkan oscar pertamanya untuk film Bowling for Columbine rilisan tahun 2002 sebagai film dokumenter terbaik. Selain itu juga mendapatkan 27 penghargaan dan 7 nominasi dari berbagai festival film di Amerika, Kanada, Eropa, Australia, bahkan di Amerika Selatan. Moore kembali ke khittahnya sebagai pembuat film dokumenter. Ia bertindak sebagai penulis, sutradara, produser dan aktornya sekaligus. Bowling for Columbine diangkat dari kisah Eric Harris dan Dylan Klebold, dua siswa Columbine High School yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal di Columbine High School. Moore beranggapan bahwa kemudahan kepemilikan senjata api oleh masyarakat AS dan tayangan kekerasan baik di televisi, film, maupun komputer menjadi faktor pendorong terjadi tragedi Columbine. Moore menggarapnya sesuai dengan alirannya, penuh wawancara dan konfrontasi dengan berbagai pihak. Kesuksesan Moore semakin memuncak pada saat ia merilis Fahrenheit 9/11 pada tahun 2004. Moore mengangkat kebijakan perang Presiden George W Bush terhadap terorisme dan liputan media terhadap kebijakan itu. Moore mengkritisi media Amerika yang tidak memberikan analisa yang obyektif dan akurat pada perang Iraq tahun 2003. Ia menuduh media Amerika bertindak seolah-olah menjadi pemandu sorak yang menyemangati invasi Amerika ke Iraq. Meski juga diragukan akurasi ceritanya, Moore bersikukuh bahwa ceritanya berasal dari narasumber yang relevan. Fahrenheit memperoleh Palme d'Or, penghargaan tertinggi dari Festival Film Cannes pada saat debutnya tahun 2004. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi yang diraih kembali oleh film dokumenter sejak tahun 1956. Hasil rilis film di Amerika tercatat mencapai US$120 juta (Januari 2005), sedangkan di seluruh dunia mencapai US$220 juta. Film ini tercatat sebagai film dokumenter terlaris di dunia

ditulis oleh wenan indiesof

Rabu, 29 April 2009

Clapperboard


Dalam produksi film ataupun video produksi, clapperboard merupakan alat yang digunakan menandai shot pada proses shooting dan untuk membantu dalam proses sinkronisasi antara gambar dan suara pada saat proses editing. Klaper klasik dibuat dari papan kayu bercat dasar warna hitam dengan tulisan warna putih. Tulisan pada klaper biasanya meliputi judul produksi, nama sutradara. Pada sistem amerika, tulisan tambahannya adalah no scene, posisi kamera atau no shot, dan no take.Sebagai penanda shot, klaper digunakan untuk memberi tanda shot yang diambil. Klaper diletakkan didepan kamera sebelum take diambil. Adanya klaper memungkinkan editor mengetahui no scene, no shot, dan no take dari shot yang diambil, kemudian ia menyesuaikan dengan script report untuk mengetahui take yang dipakai maupun yang dibuang. Editor kemudian mengurutkan potongan-potongan shot yang dipakai tersebut menjadi urutan sesuai cerita skenario.Suara hentakan klaper yang keras pada saat ditutup dapat dengan mudah diidentifikasi pada track audio. Sedangkan gerakan hentakan klaper dapat dengan mudah diidentifikasi pada track video. Dengan demikian, kedua track audio dan video dapat dengan mudah disinkronisasi, dimana gerakan klaper yang menutup harus disertai dengan suara hentakan yang keras.

Mari Membuat Film Dokumenter


Tahap 1. Tentukanlah obyek apa yang ingin kita filmkan. Semua hal dapat kita filmkan, mengingat film dokumenter merupakan representasi kenyataan kehidupan apa adanya. Dari tema kehidupan sehari-hari seperti mencuci piring, mencuci baju, membersihkan wajah, memasak, sampai dengan tema-tema festival seperti penanaman pohon, kebersihan lingkungan, dan penghijauan. (Tema kehidupan sehari-hari seperti ini memang jarang menang dalam festival, tapi akan sering muncul di tv. Lihatlah iklan-iklan produk kebersihan/deterjen dan kebersihan wajah. Mirip film dokumenter kan?). Tahap 2. Riset. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang obyek yang ingin kita filmkan, baik dari buku, majalah, surat kabar, internet, wawancara, observasi langsung, dan sebagainya. Riset ini untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap obyek sehingga kita bisa menyampaikan informasi yang menyeluruh dan benar dalam film kita.Tahap 3. Tentukan sudut pandang dan buatlah naskah. Apakah dari sudut pandang orang pertama (pelaku) atau sudut pandang orang ketiga (penonton). Tentu saja naskahnya akan berbeda. Cara bertutur orang pertama berbeda dengan cara bertutur orang ketiga kan? Naskah tidak perlu terlalu kaku. Apabila dipandang perlu ada wawancara dengan tokoh-tokoh tertentu, buatlah tanda dalam naskah: siapa yang diwawancarai dan apa saja yang akan ditanyakan dan bagaimana kira-kira jawabannya. Apabila perlu, buatlah arahan sehingga uraian tokoh yang kita wawancarai nantinya singkat, padat dan sesuai dengan kehendak.Tahap 4. Rencanakan gambar. Gambar ditujukan untuk menyertai dan memperjelas uraian. Misal, di naskah terdapat uraian tentang membersihkan wajah, maka sebaiknya disertai gambar orang sedang mengusap wajahnya dengan busa pembersih. Untuk membuat gambar lebih menarik, dicari pemeran yang sesuai, misalnya wanita yang muda dan cantik. Meskipun film dokumenter, kaidah-kaidah perfilman tetap boleh digunakan. Konsep bahasa gambar, lighting, make up, setting, kostum, dan sebagainya tetap harus diperhatikan sehingga film kita menjadi utuh dan menarik. Misal, kita mengambil gambar kraton dengan penjaganya. Akan lebih baik apabila kita mendapatkan gambar penjaga kraton berbaju tradisional daripada gambar penjaga kraton berbaju satpam. Lebih klasik dan lebih artistik.Tahap 5. Siapkan kebutuhan produksi. Siapkan kamera video, voice/tape recorder, lampu-lampu, boom, clip on mic, kaset video maupun tape, dan bahan-bahan pendukung lainnya seperti bahan untuk special effect. Untuk film dokumenter tentang mencuci pakaian, tentunya diperlukan baju-baju kotor. Baju-baju ini dapat disiapkan sebelumnya sehingga pada waktu produksi tidak kebingungan mencarinyaTahap 6. Produksi. Inilah tahap pengambilan gambar dan suara sesungguhnya. Jangan lupa menandai setiap gambar yang diambil. Klaper yang umum digunakan pada pembuatan film profesional juga dapat digunakan. Kalau tidak ada klaper, gunakan kertas putih dan tulislah secara singkat dengan huruf besar deskripsi shoot yang diambil.Tahap 7. Editing dan finishing. Urutkan gambar sesuai naskah. Suara narator juga diambil pada saat ini. Sinkronkan keduanya. Kadang, gambar terlalu panjang dan narasi/naskah terlalu pendek atau sebaliknya. Bubuhkan musik pengiring dan sound effect untuk membuat film lebih 'hidup'. Tambahkan grafis judul dan uraian-uraian yang diperlukan (uraian-uraian ini bisa disiapkan sebelumnya pada waktu pembuatan naskah). Burn film ke media CD/DVD dari merk yang baik berdaya tahan tinggi sehingga gambar tidak mudah macet. Buatlah cover yang baik. Satukan. Jadilah film dokumenter dan siap dinikmati.

moana


Robert J. Flahertymengambil settingMoana di South SeaIslands (KepulauanSamoa). Kepulauan initerletak di SamudraPasifik bagian selatanditengah-tengah antaraHawai dan SelandiaBaru. Flaherty tinggaldi Samoa dari April1923 sampai denganDesember 1924 untukmengambil gambar Moana. Sekembali dariSamoa, Flaherty tidak langsungmenyelesaikan filmnya ini. Flahertymenyelesaikan film ini pada Desember 1925.Moana berkisah tentang kebiasaanmasyarakat Polynesia di Samoa, terutamapada kehidupan sehari-hari dan romantikaremajanya. Flaherty berusahamerekonstruksi kebudayaan asli masyarakatPolynesia sebelum bercampur dengankebudayaan barat. Kegiatan sehari-hariseperti memasak, memancing, berburu, danmengumpulkan makanan menghiasisebagian besar Moana. Flahertymenggambarkan kehidupan di Samoaseolah-olah berada di surga.Moana dirilis untuk pertama kali di Amerikatanggal 7 Januari 1926 oleh ParamountPictures. Film ini juga dikenal dengan judulMoana: A Romance of the Golden Age danMoana: A Story of The South Seas.Formatnya hitam putih dengan durasi 85menit.
Ditulis oleh Wenan Setyo N

Senin, 20 April 2009

Tentang Film Dokumenter

Film dokumenter adalah film yang
mendokumentasikan kenyataan. Istilah
"dokumenter" pertama digunakan oleh The
Moviegoer, nama samaran John Grierson,
pada waktu meresensi film Moana (1926)
karya Robert Flaherty di harian New York
Sun pada tanggal 8 Februari 1926.
Menurut Grierson, film memiliki potensi
untuk mengobservasi kehidupan nyata dan
potensi ini dapat dieksploitasi menjadi suatu
bentuk seni film yang baru, yaitu suatu film
dengan aktor 'asli' dan scene 'asli'. Aktor dan
scene asli ini dianggap paduan yang lebih baik
daripada aktor rekaan dan scene rekaan yang
digunakan oleh penulis skenario untuk
menggambarkan kehidupan manusia.
Prinsipnya, situasi 'asli' akan memberikan
gambaran yang lebih realistis daripada situasi
'rekaan'.
Di Perancis, istilah dokumenter digunakan
untuk semua film non-fiksi, termasuk
didalamnya adalah film mengenai perjalanan
dan film pendidikan. Film-film ini merekam
kejadian sehari-hari, misalnya kereta api
masuk ke stasiun, yang merepresentasikan
kenyataan dan menampilkan kembali fakta
kehidupan apa adanya.
Grierson mendefinisi dokumenter sebagai
"creative treatment of actuality". Menurutnya,
dokumenter merupakan pengemasan secara
kreatif peristiwa aktual yang terjadi.
Sedangkan Pare Lorentz, pembuat film
dokumenter asal Amerika, mendefinisi film
dokumenter sebagai "film yang berdasarkan
fakta yang didramatisasi (a factual film which is
dramatic)". Dramatisasi tersebut berarti fakta
yang terjadi sebenarnya diolah dan
ditampilkan dalam bentuk cerita.
Pada perkembangannya, muncul sebuah
istilah baru yakni Dokudrama. Dokudrama
adalah genre dokumenter dimana pada
beberapa bagian film disutradarai atau diatur
terlebih dahulu dengan perencanaan yang
detail. Dokudrama muncul sebagai solusi
atas permasalahan mendasar film
dokumenter, yakni untuk memfilmkan
peristiwa yang sudah ataupun belum pernah
terjadi.
Pembuat film dokumenter memiliki alasan
yang berbeda-beda berdasarkan tujuan yang
ingin diraihnya dari film dokumenternya.
Menurut Michael Renov, dosen di University
of South Carolina, alasan tersebut dapat
dikelompokkan menjadi empat:
1. Merekam dan mengabadikan peristiwa.
Perekaman peristiwa itu dilakukan pada
waktu yang sesungguhnya untuk
menunjukkan kenyataan peristiwa pada saat
terjadinya. Adanya rekaman ini menjadikan
peristiwa tersebut menjadi sejarah dan tidak
akan terlupakan atau hilang. Rekaman
tersebut kemudian ditunjukkan kepada
publik sehingga masyarakat yang tidak
mengalaminya, mengetahui peristiwa yang
sesungguhnya terjadi.
2. Mempromosikan sesuatu dengan tujuan
mendapatkan simpati atau dukungan. Film
menjadi media propaganda terhadap suatu
produk atau peristiwa tertentu. Pembuatnya
memiliki tendesi khusus, agar penonton
memiliki kepedulian terhadap
subyek yang difilmkan.
3. Menganalisa suatu peristiwa. Film
adalah gambaran situasi yang terjadi
pada pelaku peristiwa, dimana
situasi ini mungkin saja berbeda
dengan situasi yang dihadapi oleh
penonton saat menikmati film itu.
Film dokumenter dengan sifat
menganalisa memberikan uraianuraian
penjelasan terhadap
perbedaan atau hal-hal yang tidak
dilihat penonton. Film dokumenter
jenis ini biasanya berisi narasi yang
menjelaskan peristiwa demi peristiwa yang
terekam.
4. Media ekspresi. Disini, film dokumenter
tidak semata-mata sebagai film yang 'apa
adanya', akan tetapi pembuatannya
berkembang dengan menggunakan tehnik
sinematografi dan sentuhan seni
pembuatnya.
Tentu saja, alasan-alasan ini dapat saling
tumpang tindih. Rekaman perjalanan ke
kutub utara yang dibuat secara amatir tentu
hanya bermaksud untuk merekan atau
mengabadikan kegiatan selama dikutub utara
saja. Sedangkan March of The Penguin,
rekaman kehidupan penguin di kutub utara
yang dibuat secara profesional, memiliki
maksud yang lebih luas. Selain menunjukkan
kehidupan penguin di habitatnya, film
dokumenter ini juga bermaksud mengungkit
kepedulian penonton terhadap kelangsungan
ekosistem lingkungan di kutub utara.

Ditulis oleh Wenan Setyo N

Jumat, 17 April 2009

Sekilas tentang Charles Deemer




Tehnik apa yang digunakan dalam film ini?

a. Blue Screen
b. Green Screen

Charles Deemer adalah
seorang pengajar Penulisan
Skenario di Portland State
University. Sejak tahun
1994, Ia telah membuat
website berisikan tentang
penulisan skenario (web
buatannya tahun 1994,
sejak tahun 2001
sudah tidak aktif
lagi). Websitenya
tercatat sebagai
website pertama
yang dibuat oleh
penulis skenario
dan didedikasikan
untuk dunia
penulisan skenario.
Sekarang, situsnya
berada di www.geocities.com/cdeemer/.
Disitus ini, ia memberikan panduan dasar
tentang penulisan skenario, baik untuk film
maupun drama. Deemer juga menulis buku
tentang penulisan skenario berjudul
Screenwright: the craft of screenwriting. Buku
ini oleh John Jarvis
dijuluki sebagai “the
bible of screenwriting
for the novice”.

Ditulis oleh Wenan Setyo N

Paradigma Bercerita ala Charles Deemer








Glossary
(bacalah : terjemahan bebas sebagai
penjelasan singkat)
Teks biru: merupakan istilah atau penanda
dalam struktur cerita
Teks merah: merupakan contoh-contoh
kalimat sebagai kata pembuka pada setiap
babak, yang sering digunakan dalam bercerita
Begin: bagian awal dari cerita
Middle: bagian tengah cerita
End: bagian akhir cerita
Setup: proses pembentukan cerita. Pada
bagian ini, penonton dikenalkan dengan para
tokoh dan latar-belakang pribadinya, waktu
dan tempat terjadinya cerita, kondisi
dan situasi lingkungan pada saat cerita
berlangsung, dan masalah-masalah yang
akan dihadapi oleh tokoh utama.
Conflict: perjuangan tokoh utama untuk
menyelesaikan masalah-masalahnya.
Biasanya tokoh utama kemudian dihadapkan
pada peristiwa-peristiwa yang diluar
dugaannya sehingga membuat cerita menjadi
lebih menarik
Resolution: akhir dari cerita. Masalahmasalah
terselesaikan satu demi satu. Tokoh
utama dan tokoh-tokoh lainnya berada
dalam keadaan baru, bisa saja dalam keadaan
yang menyenangkan atau sebaliknya,
menyedihkan. Setiap tokoh mendapati dunia
barunya, yang berbeda dengan dunianya
semula di awal cerita.
Once upon a time: kata-kata klasik sebagai
penanda dimulainya cerita. Kata ini untuk
menunjukkan waktu terjadinya cerita. Dalam
bahasa Indonesia mungkin bisa disebut
dengan kata-kata: pada suatu ketika atau pada
jaman dahulu kala...
Hook: jebakan, kaitan. Bagian cerita untuk
membuat penonton 'terjebak' dengan
keinginan penulis skenario sehingga terus
mengikuti jalannya cerita.
Inciting incident(complication): provokasi,
peristiwa atau masalah yang menjadi
penggugah tokoh utama melakukan sesuatu
Call to action: tindakan yang harus dilakukan
oleh tokoh utama. Call to action berbeda
dengan inciting incident. Call to action lebih
menekankan pada kewajiban yang harus
dilakukan tokoh utama sesuai dengan
pekerjaan atau statusnya. Misalnya kewajiban
polisi untuk menangkap penjahat.
And then one day: disinilah titik awal mula
cerita berjalan
Plot point to enter: peristiwa penting yang
mengubah jalannya cerita (misalnya peristiwa
yang diharapkan berhasil, ternyata gagal,
karena terjadi peristiwa lain diluar perkiraan
tokoh utama.Peristiwa lain ini kemudian
berkembang menjadi satu cerita utuh dalam
skenario)
Ordinary world: dunia biasa, kehidupan
sehari-hari tokoh utama
Extraordinary world/story world: babak
berlangsungnya cerita, dimana peristiwa demi
peristiwa berlangsung menyampaikan cerita
penulis skenario, menuju terbentuknya dunia
yang baru.
Just when everthing was going so well: boleh
dibilang ini adalah titik balik kenyataan.
Ketika segalanya mulai berjalan
dengan lancar, tiba-tiba saja muncul masalah
yang harus dihadapi.
Mid point twist: terjadi perubahan jalan cerita
di pertengahan skenario. Perubahan ini untuk
mengejutkan penonton bahwa peristiwa yang
terjadi selanjutnya ternyata diluar perkiraan
penonton.
Low point: mendekati akhir cerita. Cerita
sudah tidak berkembang. Penontong tidak
lagi diajak untuk mereka-reka masalah apalagi
yang akan timbul. Peristiwa yang terjadi
selanjutnya merupakan upaya-upaya tokoh
utama untuk mencapai tujuannya. Pada tahap
ini, penulis skenario sepertinya memberi
'bocoran' kepada penonton tentang akhir
cerita.
When at the last minutes: pada detik-detik
terakhir
Ticking Clock: menghitung detik demi detik,
saat-saat kritis. Contohnya, penjinak bom
yang dihadapkan pada bom yang akan
meledak 60 detik kemudian.
Showdown: konfrontasi, terjadi peristiwaperistiwa
yang saling bertentangan atau tidak
diharapkan. Peristiwa ini harus dihadapi
dipecahkan oleh tokoh utama.
Growth: cerita mulai berkembang, dari cerita
yang sederhana menjadi cerita yang lebih
rumit dan kompleks
And everybody happily ever after: happy
ending, tokoh utama mendapatkan apa yang
diinginkannya sehingga cerita kehidupannya
berakhir bahagia
Sadder but wiser: mirip sad ending, tokoh
utama gagal meraih keinginannya tapi ia
menjadi lebih bijaksana. Kalau sad ending bisa
saja tokoh utamanya mati.
Dead: ending yang benar-benar tidak
menyenangkan, karena tokoh utama mati
pada akhir cerita.
Like a blind man wandering the earth: seperti
orang buta berjalan tanpa arah dan tujuan
yang jelas di muka bumi. Tokoh utama
menjadi gila, stress, tertekan, pokoknya
menyedihkan. Mungkin yang diharapkan oleh
penulis skenario adalah timbul rasa kasihan
terhadap tokoh utama.
Tragedy: mirip dengan like a blind man
sebelumnya. Tokoh utama gagal karena
kelemahan pribadi atau ketidakmampuannya
untuk mengatasi keadaan yang tidak
menyenangkan.
Catatan : Glossary ini mungkin tumpang
tindih, tapi itu wajar saja. Untuk memainkan
emosi penonton, penulis skenario membuat
tokoh utamanya selalu mendapatkan masalah.
Ketika satu masalah bisa diselesaikan, tibatiba
muncul masalah yang lainnya lagi.
Kejadian ini kemudian berulang-ulang
sepanjang cerita sampai mencapai klimaks
dan akhirnya cerita pun selesai.


Ditulis oleh Wenan Setyo N

Senin, 13 April 2009

Canon vs Nikon.. Mengapa Mesti Bingung?


“There is only you and your camera. The
limitations in your photography are in yourself, for
what we see is what we are.” - Ernst Haas
Kebingungan. Hal ini sering dihadapi
oleh fotografer pemula yang ingin membeli
kamera Digital SLR. Umumnya mereka
bingung pada saat mereka ingin membeli
kamera Digital SLR untuk pertama kali.
Kamera merek apakah yang harus dibeli?
Ada banyak pilihan merek kamera
Digital SLR, baik dari produsen terkenal
seperti Sony, Panasonic, Olympus, Pentax,
Canon, dan Nikon, maupun dari produsen
lainnya seperti Fuji, Sigma, dan Leica
Beberapa orang menganggap Canon
dan Nikon menjadi pilihan terbaik. Kedua
kamera ini memiliki banyak pengguna, baik
profesional maupun penggemar fotografi.
Kedua kamera juga memiliki sejarah yang
panjang dalam dunia fotografi. Mereka sudah
ada sejak era fotografi klasik dengan sistem
perekaman gambar pada film hitam putih
sampai era fotografi modern dengan sistem
perekaman gambar secara digital. Keduanya
saling berlomba-lomba mengembangkan
sistem kamera yang lebih baik dengan jalan
yang berbeda-beda seperti penggunaan
sensor CCD dan CMOS.
Image Canon dan Nikon telah
merasuk dalam pikiran sebagian besar orang
bahwa kamera terbaik adalah Canon dan
Nikon. Namun, ketika seorang diharuskan
untuk memilih Canon atau Nikon sebagai
kamera Digital SLR pertamanya, maka
kebingunganlah yang dihadapinya. Merk
mana yang harus dipilih Canon atau Nikon?
Tidak perlu bingung! Keduanya sama
baiknya bukan? Cobalah perhatikan. Jejerkan
foto-foto hasil jepretan kamera Nikon
dengan kamera Canon secara acak. Atau
downloadlah foto sample dari kamera-kamera
Digital SLR Canon maupun Nikon dari yang
termurah sampai yang termahal misalnya dari
www.dpreview.com. Lalu, buatlah slideshow secara
acak. Sebagai orang awam pasti sulit
membedakan foto mana yang diambil dengan
Canon dan foto mana yang diambil dengan
Nikon. Maka, kamera manapun yang akan
dipilih, maka tidak perlu diragukan lagi
kualitas gambarnya.
Namun, bagaimana bila harus
memilih? Pilihlah dengan melihat orangorang
disekitar, kamera apa yang mereka
pakai, Canon atau Nikon? Apabila mereka
memakai Canon, maka belilah Canon.
Apabila mereka memakai Nikon, maka
belilah Nikon. Dengan menyamakan kamera
sesuai dengan orang-orang disekitar maka
kita akan lebih cepat belajar. Selain itu kita
bisa meminjam asesoris kamera dari mereka,
seperti lensa, lampu kilat, dan sebagainya.
Ada kata-kata bijak di antara
masyarakat penggemar fotografi, buying a
Nikon doesn't make you a photographer. It makes
you a Nikon owner. Mengapa mesti bingung?


Ditulis oleh Wenan Setyo N

Mengembangkan Konsep Cerita Skenario

Mengembangkan Konsep Cerita Skenario

Suatu cerita skenario tersusun atas
karakter, plot, dan tema. Menulis skenario
adalah menulis tentang karakter, plot, dan
tema itu sendiri. Pengembangan ketiga hal ini
menjadi pendukung untuk membuat cerita
yang ditulis menjadi kisah yang menarik atau
biasa saja.
Karakter merupakan tokoh-tokoh
yang terlibat dalam sebuah cerita. Biasanya,
suatu skenario menceritakan perjuangan
tokoh utama untuk mencapai tujuannya. Ia
akan dibantu tokoh pembantu yang
mendukung perjuangannya. Perjuangan
mereka tidaklah mudah sebab ada juga tokoh
penghambat yang tidak senang apabila tokoh
utama berhasil mencapai tujuannya.
Interaksi antartokoh dalam skenario
ditunjukkan dengan plot atau alur cerita. Plot
menunjukkan bagaimana satu peristiwa
dengan peristiwa lainnya saling berkaitan dan
diurutkan sehingga membentuk satu skenario
yang utuh menceritakan proses perjuangan
tokoh utama untuk mencapai tujuannya.
Urutan peristiwa ini kadang mudah dipahami
sebab berlangsung berurutan dari peristiwa
yang terjadi pertama kali dan kemudian
disambung dengan peristiwa lain yang terjadi
berikutnya. Kadang juga, urutan peristiwa ini
sulit dipahami karena skenario tidak
menceritakan urutan peristiwa ini secara urut,
akan tetapi melompat-lompat dari satu
peristiwa ke peristiwa yang lain.
Tema merupakan cerita perjuangan
itu sendiri.
Untuk menarik minat penonton,cerita yang sama, namun penonton masih
maka tema haruslah menggugah rasa ingin
tahu mereka. Banyak film memiliki tema
berminat melihat film-film tersebut karena
memiliki setting atau latar belakang cerita
yang berbeda. Latar belakang inilah yang
membuat suatu cerita itu unik dan berbeda
dengan cerita-cerita yang lain meskipun tema
bahkan judulnya sama.
Karakter dan tema menjadi bahan
utama dalam mengembangkan konsep cerita
skenario. Penulis skenario terlebih dahulu
harus bisa membuat konsep cerita yang akan
ditulisnya baru kemudian menentukan plot
untuk menuturkan ceritanya secara utuh.
Konsep cerita mestinya dapat
dituliskan dalam sebuah kalimat tunggal yang
menyebutkan siapa tokoh utama cerita dan
perjuangan yang ia lakukan untuk mencapai
tujuannya. Konsep cerita secara singkat dapat
dituliskan: Ini adalah cerita tentang (tokoh)
yang (perjuangannya). Apabila konsep cerita
ini diuraikan pada film Ada Apa Dengan
Cinta? (AADC), maka film AADC adalah
cerita tentang Cinta yang berusaha meraih
cintanya terhadap Rangga.
Untuk mengembangkan konsep
cerita, dapat digunakan bantuan pertanyaan
Bagaimana Jika (What If Question). Ada dua
pertanyaan yang mesti bisa dijawab: (1)
Bagaimana jika tokoh utama berhasil dalam
perjuangannya? (2) Bagaimana jika ternyata ia
gagal?

Ditulis oleh Wenan Setyo N