Dalam produksi film ataupun video produksi, clapperboard merupakan alat yang digunakan menandai shot pada proses shooting dan untuk membantu dalam proses sinkronisasi antara gambar dan suara pada saat proses editing. Klaper klasik dibuat dari papan kayu bercat dasar warna hitam dengan tulisan warna putih. Tulisan pada klaper biasanya meliputi judul produksi, nama sutradara. Pada sistem amerika, tulisan tambahannya adalah no scene, posisi kamera atau no shot, dan no take.Sebagai penanda shot, klaper digunakan untuk memberi tanda shot yang diambil. Klaper diletakkan didepan kamera sebelum take diambil. Adanya klaper memungkinkan editor mengetahui no scene, no shot, dan no take dari shot yang diambil, kemudian ia menyesuaikan dengan script report untuk mengetahui take yang dipakai maupun yang dibuang. Editor kemudian mengurutkan potongan-potongan shot yang dipakai tersebut menjadi urutan sesuai cerita skenario.Suara hentakan klaper yang keras pada saat ditutup dapat dengan mudah diidentifikasi pada track audio. Sedangkan gerakan hentakan klaper dapat dengan mudah diidentifikasi pada track video. Dengan demikian, kedua track audio dan video dapat dengan mudah disinkronisasi, dimana gerakan klaper yang menutup harus disertai dengan suara hentakan yang keras.
Rabu, 29 April 2009
Mari Membuat Film Dokumenter
Tahap 1. Tentukanlah obyek apa yang ingin kita filmkan. Semua hal dapat kita filmkan, mengingat film dokumenter merupakan representasi kenyataan kehidupan apa adanya. Dari tema kehidupan sehari-hari seperti mencuci piring, mencuci baju, membersihkan wajah, memasak, sampai dengan tema-tema festival seperti penanaman pohon, kebersihan lingkungan, dan penghijauan. (Tema kehidupan sehari-hari seperti ini memang jarang menang dalam festival, tapi akan sering muncul di tv. Lihatlah iklan-iklan produk kebersihan/deterjen dan kebersihan wajah. Mirip film dokumenter kan?). Tahap 2. Riset. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang obyek yang ingin kita filmkan, baik dari buku, majalah, surat kabar, internet, wawancara, observasi langsung, dan sebagainya. Riset ini untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap obyek sehingga kita bisa menyampaikan informasi yang menyeluruh dan benar dalam film kita.Tahap 3. Tentukan sudut pandang dan buatlah naskah. Apakah dari sudut pandang orang pertama (pelaku) atau sudut pandang orang ketiga (penonton). Tentu saja naskahnya akan berbeda. Cara bertutur orang pertama berbeda dengan cara bertutur orang ketiga kan? Naskah tidak perlu terlalu kaku. Apabila dipandang perlu ada wawancara dengan tokoh-tokoh tertentu, buatlah tanda dalam naskah: siapa yang diwawancarai dan apa saja yang akan ditanyakan dan bagaimana kira-kira jawabannya. Apabila perlu, buatlah arahan sehingga uraian tokoh yang kita wawancarai nantinya singkat, padat dan sesuai dengan kehendak.Tahap 4. Rencanakan gambar. Gambar ditujukan untuk menyertai dan memperjelas uraian. Misal, di naskah terdapat uraian tentang membersihkan wajah, maka sebaiknya disertai gambar orang sedang mengusap wajahnya dengan busa pembersih. Untuk membuat gambar lebih menarik, dicari pemeran yang sesuai, misalnya wanita yang muda dan cantik. Meskipun film dokumenter, kaidah-kaidah perfilman tetap boleh digunakan. Konsep bahasa gambar, lighting, make up, setting, kostum, dan sebagainya tetap harus diperhatikan sehingga film kita menjadi utuh dan menarik. Misal, kita mengambil gambar kraton dengan penjaganya. Akan lebih baik apabila kita mendapatkan gambar penjaga kraton berbaju tradisional daripada gambar penjaga kraton berbaju satpam. Lebih klasik dan lebih artistik.Tahap 5. Siapkan kebutuhan produksi. Siapkan kamera video, voice/tape recorder, lampu-lampu, boom, clip on mic, kaset video maupun tape, dan bahan-bahan pendukung lainnya seperti bahan untuk special effect. Untuk film dokumenter tentang mencuci pakaian, tentunya diperlukan baju-baju kotor. Baju-baju ini dapat disiapkan sebelumnya sehingga pada waktu produksi tidak kebingungan mencarinyaTahap 6. Produksi. Inilah tahap pengambilan gambar dan suara sesungguhnya. Jangan lupa menandai setiap gambar yang diambil. Klaper yang umum digunakan pada pembuatan film profesional juga dapat digunakan. Kalau tidak ada klaper, gunakan kertas putih dan tulislah secara singkat dengan huruf besar deskripsi shoot yang diambil.Tahap 7. Editing dan finishing. Urutkan gambar sesuai naskah. Suara narator juga diambil pada saat ini. Sinkronkan keduanya. Kadang, gambar terlalu panjang dan narasi/naskah terlalu pendek atau sebaliknya. Bubuhkan musik pengiring dan sound effect untuk membuat film lebih 'hidup'. Tambahkan grafis judul dan uraian-uraian yang diperlukan (uraian-uraian ini bisa disiapkan sebelumnya pada waktu pembuatan naskah). Burn film ke media CD/DVD dari merk yang baik berdaya tahan tinggi sehingga gambar tidak mudah macet. Buatlah cover yang baik. Satukan. Jadilah film dokumenter dan siap dinikmati.
moana

Robert J. Flahertymengambil settingMoana di South SeaIslands (KepulauanSamoa). Kepulauan initerletak di SamudraPasifik bagian selatanditengah-tengah antaraHawai dan SelandiaBaru. Flaherty tinggaldi Samoa dari April1923 sampai denganDesember 1924 untukmengambil gambar Moana. Sekembali dariSamoa, Flaherty tidak langsungmenyelesaikan filmnya ini. Flahertymenyelesaikan film ini pada Desember 1925.Moana berkisah tentang kebiasaanmasyarakat Polynesia di Samoa, terutamapada kehidupan sehari-hari dan romantikaremajanya. Flaherty berusahamerekonstruksi kebudayaan asli masyarakatPolynesia sebelum bercampur dengankebudayaan barat. Kegiatan sehari-hariseperti memasak, memancing, berburu, danmengumpulkan makanan menghiasisebagian besar Moana. Flahertymenggambarkan kehidupan di Samoaseolah-olah berada di surga.Moana dirilis untuk pertama kali di Amerikatanggal 7 Januari 1926 oleh ParamountPictures. Film ini juga dikenal dengan judulMoana: A Romance of the Golden Age danMoana: A Story of The South Seas.Formatnya hitam putih dengan durasi 85menit.
Ditulis oleh Wenan Setyo N
Langganan:
Postingan (Atom)